Ada
apa dengan sistem pendidikan Indonesia? Banyak sekali anak bangsa yang tertekan
dengan sistem yang ada saat ini. Bahkan baru-baru ini salah satu anak bangsa
kita yang berada di Nias, Henrikus Hia
meninggal dunia saat melaksanakan Ujian Nasional(UN). Naas bukan?
Sistem
yang lebih mengedepankan hasil ataupun berupa nilai yang menurut
mereka(pemerintah) sebagai standar untuk bisa bertahan di dunia ini. Salah satu
sistem yang sangat kontropersial adalah sistem kelulusan siswa yang harus lulus
proses Ujian Nasional(UN) sebagai standar kelulusannya. Banyak sekali kemudaratan
yang timbul akibat dilaksanaknnya Ujian Nasional. Diantaranya, akan timbul pemahaman
yang keliru terhadap makna bejalar di sekolah. Tujuan belajar yang mestinya
dalam rangka mencari ilmu, berubah menjadi sekedar meraih kelulusan ujian
nasional. Akibatnya, mata pelajaran yang tidak di UN kan akhirnya menjadi
dinomorduakan, termasuk gurunya. Siswa juga akan dihantui
ketakutan yang besar tidak lulus UN. Hingga mereka akhirnya menghalalkan
berbagai cara untuk mencapai apa yang mereka inginkan.
Pemerintah
juga membuat banyak sekali standarisasi dalam hal pendidikan. Salah satunya pembuatan
kurikulum yang merupakan standar yang harus dijalankan oleh tiap sekolah di
Indonesia, dimana kurikulum tersebut sudah banyak sekali berubah.
Hal
ini sangat berdampak bagi dunia pendidikan kita. Para pengajar akan pusing
dengan seringnya pergantian kurikulum. Bahkan mereka akan tertekan untuk
mengejar target yang diberikan pemerintah kepadanya. Siswa yang terlambat dalam
proses belajar, akan tertinggal, karena sibuknya pengajar bangsa kita untuk
mengejar target tersebut. Bahkan pihak sekolah dan para pengajar akan
menghalalkan berbagai cara untuk mencapai target tersebut. Seperti yang terjadi
saat Kepolisian
Resor Kota Besar Surabaya menangkap lima guru yang menjadi pelaku yang
membocorkan jawaban Ujian Nasional (UN) 2012 tingkat sekolah menengah pertama.
Jadi,
mengapa sistem yang sudah ambruk ini masih dipertahankan? Tiap pihak saling
mengintervensi, mulai dari pelajar, pendidik, dan pihak lainnya yang terlibat
dalam dunia pendidikan. Mengapa pemerintah tidak mempercayakan hal proses
belajar-mengajar kepada para pendidik? Pemerintah selalu mengintervensi dunia
pendidikan dengan standarisasi yang akan menekan semua pihak.
Seharusnya,
mulai dari evaluasi belajar secara nasional dilakukan tanpa ada intervensi pemerintah
sekali pun. Setiap sekolah bahkan guru berkuasa penuh untuk menyusun
kurikulumnya sendiri.Jadi jangan sampai para pengajar kita disibukkan untuk
mengejar terget-target tertentu karena guru selalu menyesuaikan bahan ajarnya
dengan kebutuhan setiap pelajar. Siapa pun presidennya dan menteri
pendidikannya tidak akan berpengaruh signifikan terhadap masa depan pendidikan
bangsa kita. Karena fungsi pemerintah dalam memajukan sektor pendidikan adalah
dukungan finansial dan legalitas.
Dengan
sistem tersebut, para pelajar kitapun akan di bina hingga mereka mengerti. Merekapun
akan di nilai sesuai dengan kemampuan mereka. Mereka akan bebas berkreasi
sesuai keinginan mereka. Hingga akhirnya akan tumbuh tunas-tunas bangsa yang
akan mengharumkan negeri ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar